Daftar Blog Saya

Rabu, 02 Mei 2018

Melawan Dominasi; Memetik Pelajaran di Kulit Bundar

Real Madrid itu sangat dominatif di liga champions. Tim ini hebat. Itu satu kenyataan yang tak terpungkiri. Tapi hal yang dominatif itu cukup sering menimbulkan kejenuhan. Apalagi jika dalam perjalanannya kemudian, untuk mempertahankan gelar juara dan dominasi itu, diiringi dengan hal berbau kontroversi, alih-alih permainan menawan.

Kejenuhan itu kemudian terendus dalam harapan banyak pecinta sepakbola, untuk melihat juara baru di champions league musim ini. Menarik, sebab harapan itu diletakkan pada tim-tim yang bisa dikata medioker, seperti Liverpool ataupun AS Roma.

Dua tim ini memang memberi kejutan. Permainannya selain cantik, juga menebar aura perjuangan dan aksi heroik melawan tim-tim mapan seperti Manchester City ataupun Barcelona. Sayangnya, kita harus melihat Liverpool dan AS Roma, saling bantai di semi final.
                                                            
Bukan karena suka Andreas Iniesta yang gugur bersama tim mapan lainnya, lalu saya bilang begini. Tapi sebagai warga negara dunia ketiga, kita memang agak sensi dengan hal-hal yang sifatnya dominatif. Lelah kita hidup dalam suasana itu. Maka seandainya anda begitu fanatik dengan Real Madrid, saya yakin, dalam hati kecil anda akan tetap senang, jika seandainya tim sekelas Real Zaragosa lah yang keluar sebagai juara champions.

Musim 2015-2016, Leicester City menghentak Liga Premier Inggris. Sebuah tim yang tak banyak dikenal, tak diisi pemain mahal. Tapi dengan kenyataan itu, Leicester malah jadi juara di liga yang konon paling kompetitif di dunia ini. Leicester mampu mematahkan dominasi tim-tim besar. Tim yang dengan gelimang kekayaannya, bisa mendatangkan pemain mahal mana saja yang mereka mau. Bukankah kita ikut berbahagia atas pencapaian Leicester ketika itu?

Juga sangat besar kemungkinan, bahwa fans Manchester United, (tim yang waktu itu menghabiskan 2,05 triliun) atau fans Manchester City (klub yang menghamburkan hingga 2,8 triliun untuk berbelanja pemain bintang), juga memberi respek dan penghormatan tinggi pada Leicester City--yang dengan budget 757 miliar saja, pemain-pemain tak terkenalnya lah yang mengangkat tropi juara.

Piala dunia 2018 nanti pun bisa jadi begitu. Kita mungkin mengunggulkan tim-tim mapan seperti Spanyol, Jerman, atau Brazil. Tapi sekali lagi, jika kita jenuh dengan dominasi, kita akan lebih berbangga melihat Tim nasional Mesir, atau Timnas negara Afrika lainnya yang jadi kampiun. Penyebabnya bisa jadi karena kita merasa senasib sepenanggungan. Sama-sama negeri dunia ketiga yang ingin menunjukkan taring pada gemerlapnya dominasi sepakbola barat.

Mungkin terkesan dipaksakan, jika hal ini di hubung-hubungkan dalam realitas politik kita. Yang menurut saya, masih begitu dominatif. Ruang-ruang perjuangan kebijakan, melulu diisi oleh mereka yang telah mapan akses politiknya. Yang dengan akses dan sel-sel politik yang disemai, mereka terus melenggang anggun di karpet merah kekuasaan.

Padahal, dengan semakin apatis dan pragmatisnya kita dalam menaruh harapan di pundak mereka, bisa jadi akibat jenuhnya kita dengan dominasi tanpa disertai kinerjanya yang menawan--yang dalam bahasanya Milea disebut; gitu-gitu ajah.

Maka, jika kita semakin jenuh dengan keadaan yang demikian, sudah saatnya kita tak lagi terpaku pada mereka yang dominatif dan mapan itu. Tapi untuk melihat sesuatu yang baru, sudah waktunya kita memilin asa pada mereka yang punya kapabilitas, serta tegas komitmen dan keberpihakannya--tapi masih tersisih Di Pinggiran Desa--tersembunyi di bawah bayang-bayang dominasi dan kemapanan politik para elit kita di atas sana.

gbr : Nalar Politik


 Cuplikan pertandingan antara Liverpool vs Asroma di leg ke 2 Liga Champions 2018


      Leicester City saat menjadi kampiun di Liga Premier Inggris musim 2015-2016

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Selasa, 01 Mei 2018

May Day; Jurnalis Juga Buruh

Satu teman di pesbuk, kalau bikin status, cukup sering menyisipkan hashtag #kulitinta. Saya menuju link KBBI online. Dugaanku benar, yang dimaksud dengan istilah "kulitinta", adalah profesi yang bergelut dan berpenghasilan dari dunia tulis-menulis, atau profesi lainnya seperti: Jurnalis.

Sebagian besar dari kita mungkin akan setuju, bahwa kata "kuli" dapat disepadankan dengan kata "buruh". Mungkin sebagiannya, punya pendapat, bahwa kuli itu, tidak bisa mendengar. Namun berhubung saat ini adalah momen May Day, kita bersepakat saja, bahwa kata KULI, semaksud dengan kata BURUH. Maka jika ditarik lagi ke dalam pengertian Kulitinta menurut KBBI, kesimpulan akhirnya adalah: Jurnalis itu buruh. Buruh yang pundi pendapatannya, bersumber dari honor pada perusahaan media tempatnya bekerja.

Syariat Tajuddin (mantan Jurnalis Senior di Jawa Pos), dalam satu kesempatannya berkata; Jurnalis adalah sebuah "profesi", bukan pekerjaan. Jurnalis, selain membutuhkan keahlian tertentu, juga mengemban mandat idealisme. Persoalan pundi, adalah efek kesekian dari pergulatan yang dilakoninya.

Terlepas dari ketersetujuan saya, dan mungkin juga kita, bahwa profesi jurnalis bukanlah jalan untuk meraup pundi lalu menjadi horang kaya-- kita juga sebaiknya bersepakat, bahwa jurnalis dengan segala resiko tinggi yang dihadapinya, mestilah tetap diapresiasi oleh media tempatnya bekerja dengan salah satunya memberikan salary yang setimpal. Ini perlu, bos! Sebab kita tahu, aktifitas jurnalis itu dituntut mobile. Kendaraannya butuh diisi BBM. Kuota internetnya perlu aktif agar tetap WA-an.

Ancaman eksternal yang paling mengerikan dari dunia jurnalisme kita, salah satunya datang dari amplop tuan-tuan gendut yang jadi sumber berita. Semakin sensitif issu yang diangkat, bisa jadi semakin tebal pula amplop yang akan dijejalkan ke mulut para oknum jurnalis agar tak lagi bicara. Jika sudah begitu, sirnalah mandat dari profesi yang mulia ini.

Maraknya pemberitaan timpang, yang alih-alih menjernihkan informasi tapi malah memperkeruh suasana, mungkin juga disebabkan oleh lesunya gairah jurnalis untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi langsung pada sumber berita. Bisa jadi karena BBM di tangki motor telah kerontang. Kuota internet juga butuh di isi ulang. Sedang perusahaan media tempatnya bekerja, sudah mendesak berita harus segera tayang. Jika sudah begitu, mau tak mau jurnalis setor berita. Berimbang atau tidak, belakang persoalang.

Tapi tentu asumsi ini tidak berlaku di Sulawesi Barat. Sebab, media sebagai wadah pergulatan para jurnalis hebat di wilayah ini, telah sangat baik. Manajemen perusahaan media lokal, baik yang konvensional maupun yang ber-platform digital, telah memenuhi standar ideal. Jurnalis, yang dari premis awal di atas dapat juga disebut dengan buruh, telah sangat dipenuhi hak-haknya. Tidak ada lagi pemberitaan timpang, sebab jurnalisnya bergairah dan rajin klarifikasi. Tak ada lagi pemberitaan yang di '86-kan'--sebab dengan upah yang sangat layak, menerima amplop untuk merongrong prinsip, adalah siriq bagi insan pers di propinsi Malaqbi ini.

Maka, jika ada provokasi yang mengerahkan kita agar turun ke jalan memperjuang serta menyuarakan hak yang harus diterima para buruh media di momen May Day ini, sebaiknya berpikir-pikir lagi. Anda juga perlu membaca informasi terbaru, bahwa Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulawesi Barat di tahun 2018 ini, mencapai angka Rp 2.193.530. Naik  Rp 175.750, dari tahun 2017 yang masih senilai Rp 2.017.780. Nah, bukankah ini kabar bahagia dan nikmat yang dosa jika didustakan?

Semoga kita diberi kekuatan mempercayainya!


foto: FSPM

foto: AJI Indonesia

Sabtu, 21 April 2018

Panen Padi Ladang di Daala Timur; Gembira Ria Bersama

Jam Sembilan lewat Waktu Indonesia Tengah, Saya dan Ibu Hasna beranjak dari perkampungan warga, menuju salah satu lokasi ladang padi gunung yang akan panen hari ini, Jumat, (20/4/2018).

Kami memutuskan untuk tidak saling berboncengan. Sebab, akses jalan menuju lokasi tersebut katanya lumayan sulit. Dan benar adanya -- kami harus melewati jalan setapak yang setelah menurun, lalu tiba-tiba menanjak secara radikal.

Hujan semalam membuat jalanan jadi lebih licin.  Tapi untuk menebus rasa penasaran, tuas gas Jupiter z yang saya tunggangi, terus terpacu. Tiba-tiba motor 115 cc ini, seperti hanya punya satu gear perseneling. Gigi satu dengan tarikan gas maksimal jika jalan menanjak. Juga gigi satu saat harus menurun, membantu tromol belakang mengontrol kecepatan. Cukup melelahkan.

Tapi gengsi sebagai lelaki tangguh ditawan oleh bu Hasna. Perempuan dua anak ini begitu lihai menaklukkan jalanan. Bersama Honda Revo-nya, Ia melesat di depan. Meninggalkan saya sekian meter di belakang yang memang baru pertama kali melalui jalan ini. Tersadarlah saya dari pengaruh bualan iklan; Yamaha Semakin di Depan.

Hampir 30 menit berjibaku di jalan licin itu, sepeda motor akhirnya kami parkir. Jalanan di depan jadi lebih ekstrim. Perjalanan, mau tidak mau harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Untuk menyamarkan rasa lelah. Sepanjang perjalanan kaki ini, ragam pertanyaan terus saya lontarkan ke Ibu Hasna. Mulai dari soal perkembangan P2K2 (Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga), dan tentu saja ihwal padi ladang dan aktivitas pertanian di desanya. Namun karena terbajak lelah, jawaban-jawabannya, samar-samar saya dengarkan.

Ibu Hasna saya kenal baru beberapa bulan ini. Menjabat sekretaris di kelompok Ibu-ibu Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan, membuat saya cukup intens berkomunikasi dengannya. Soal inisiatif mengunjungi aktifitas panen hari ini, juga berawal dari informasi yang saya dapat darinya. Oh yah, wilayah yang akan kami kunjungi ini meski lumayan jauh, masih dalam wilayah dusun Pekeloang, Desa Daala Timur, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Lengkap toh?

Sekira 20 menit berjalan kaki, areal ladang dengan padi yang menguning sudah tampak di ujung mata. Ini adalah kali pertama saya melihat secara langsung tanaman padi yang berbaris indah di sepanjang kaki bukit.

Saya dan bu Hasna akhirnya tiba juga di ladang yang hari ini sedang panen. Beberapa petani nampak sudah mulai beristirahat dan sarapan (istilah di kampung saya ketika rehat sejenak untuk minum kopi atau menyantap kue yang disediakan).

Kesempatan tidak saya buang-buang. Setelah ngudud, dan tentu saja berkenalan dengan beberapa petani yang baru pertama ini bertemu, saya langsung saja 'turlap' -- memanggil insting kepo -- bertanya tentang banyak hal -- dan mendokumentasikan apa saja yang menurutku menarik.



Pemandangan di kaki bukit. Dari sini, tampak sungai Maloso di bawah sana.
Ketika musim panen seperti sekarang, petani akan cukup sering tinggal di ladang masing-masing. Tentu saja, selain menjaga padi dari serangan babi hutan, juga karena pulang balik ladang-kampung tentu sangat melelahkan. Itu kenapa, di setiap ladang akan ada pondokannya. 
Serangan babi menjadi rentan dikarenakan ladang-ladang ini berada di pinggir hutan. Menurut cerita warga lahan ini sudah dikelola turun-temurun, meskipun berada di sekitar kawasan hutan
Suasana saat petani sedang panen dan bergembira ria. Panen ini dilakukan dengan bergotong royong secara bergantian. Oleh karena itu, meskipun seorang petani telah selesai memanen padi di ladang miliknya, Ia tidak akan langsung pulang. Melainkan akan membantu juga petani lain yang panen di hari berikutnya.

Matahari yang terik menjadi tidak terasa dengan guyonan dan ledakan tawa di sepanjang mereka bekerja
Dari mulai menanam hingga panen, semua dilakukan dengan tradisional. Seorang petani laki-laki menggunakan alat potong padi yang saya lupa namanya apa. 
Perempuan dan laki-laki berbaur bekerja sama. Ini sudah tradisi dan keraifan lokal mereka. Pembagian peran yang bijak, tanpa embel-embel kajian kesetaraan gender yang kadang muluk-muluk itu.
Yang saya pegang ini adalah padi/beras merah. tentu saja tanpa input kimia baik pupuk maupun pestisida. Jelas donk, pangan di desa ini jauh lebuh sehat ketimbang hasil pertanian di sekitaran 'kota' yang nauzubillah over penggunaan pupuk sintetis dan bahan kimianya. 

Petani-petani ini sangat kreatif membuat alat semacam mesin penggiling padi. Dibuat dengan sederhana, tetapi cukup efektif dibanding mereka menggunakan alat yang lama. Dengan alat ini, tiga orang petani, biasanya laki-laki, akan (saya bingung membahsakannya hahah) intinya menginjak padi untuk memisahkan dengan jeraminya.
Oo liatko oo, prinsip kerjanya mirip mesin pemotong padi (dros), hanya saja dilakukan dengan cara serba manual. Saat saya bertanya kenapa tidak pakai mesin dros kecil saja, mereka bilang itu agak sulit karena medan yang jauh dan berbukit. Susah bawanya, Mas.
Dan inilah sebagian hasil panen hari ini yang sudah di proses dan siap diangkut ke kampung. Kalo bagian ini, sudah ada jasa khusus yang akan membawanya -- semacam motor taxi kalau di kampung saya. Dan karena  medan dan akses jalan yang cukup ekstrem menuju kampung, maka memang harus dibayar alias diupah. Mahal bensinG!
Anak-anak tentu saja ikut bergembira ria dengan musim panen ini. Mereka ikut orang tuanya ke ladang dan bersuka cita. Sambil bercanda dengan mereka, saya titip pesan untuk jangan sampai lupa menikah bolos sekolah. 






Minggu, 04 Februari 2018

Inspirasi dari Komunitas Petani Alami Galeso

Di langit matahari perlahan menunduk. Sinarnya menjurus redup. Namun, hingga ujung penglihatan mata, hamparan sawah dengan bulir padi mulai menguning, masih tetap jelas terlihat. Pemandangan di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar tersebut,  begitu klop dengan angin selatan yang berhembus sepoi sore itu.

Di salah satu petak hamparan sawah tersebut, tiga petani muda berjibaku memanggul tangki. Mereka adalah Irwan, Thalib, dan Zainal. Kurang lebih 1 Ha lahan pertanian mereka, kembali akan di semprot dengan nutrisi alami. Kali ini, mereka melakukan penyemprotan terakhir menjelang panen dengan tujuan memaksimalkan kualitas buah padi.

"Komposisi bahan yang kami gunakan hari ini adalah nutrisi dari buah masak dan nutrisi dari cangkang yang di campur dengan air laut." 

Kalimat tersebut dilontarkan Irwan, saat saya dan seorang kawan prohresif; Bung Noerdin Cambaliwali, berkunjung di tengah kesibukannya sore itu bersama dengan dua rekannya. Sabtu, 4/2/2018


Dokumentasi Pribadi; Pertanian Alami itu Ramah Lingkungan
Perawatan dengan menyemprot buah padi dengan bahan tersebut, menurut Irwan, dilakukan saat usia padi berkisar 70-80 hari. Dengan masing-masing bahan mempunyai khasiat dan tujuan tertentu pada tanaman.

"Nutrisi buah masak dan cangkang itu berfungsi untuk meperbaiki pembentukan biji dan buah. Sedangkan air laut berguna untuk memaksimalkan proses pemasakan buah." kata Bang Irwan.

Tahun ini merupakan musim ke empat, komunitas pemuda di desa Galeso, bergelut dengan pertanian alami. Salah satu metode pertanian yang tidak lagi menggunakan input kimia berupa pupuk dan pestisida sintetis, namun menggunakan bahan-bahan lokal murah yang ramah lingkungan.

Dengan menggunakan metode pertanian alami, mereka mengakui tidak lagi bergantung pada pupuk dan pestisida sintetis. Sebab, bahan alternatifnya telah mampu dibuat sendiri. Selain itu, dengan alternatif pertanian alami, diakui mereka hanya membutuhkan modal produksi yang minim. 

Jauh berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan input kimia. Metode konvensional padat modal tersebut bisa menghabiskan biaya hingga jutaan untuk luasan lahan 1 Ha. Sedangkan dengan metode pertanian alami (Natural Farming), dengan luas lahan yang sama,  biaya produksi yang diperlukan hanya maksimal 500 ribu rupiah. Hal tersebut disampaikan petani alami lainnya, Zainal.

Dokumentasi Pribadi: Pertanian Alami Murah dan Menguntungkan

"Sawah yang yang saya kerja itu sekitar 70 are. Untuk biaya pembuatan herbal, nutrisi dan pupuk alami, untuk satu kali turun sawah, biayanya paling tinggi 300 ribu. Waktu masih pakai pupuk dan pestisida kimia, biayanya bisa sampai dua juta," katanya.

Suka duka menjalankan metode pertanian alami telah mereka cecap selama dua tahun terakhir. Di awal-awal, gerakan terobosan yang mereka lakukan dianggap sepele. Namun belakangan, metode bertani mereka mulai dilirik petani di sekitarnya. Sebabnya, dengan metode pertanian alami, secara kuantitas hasilnya cenderung stabil. Hal tersebut menjadi sebuah keistimewaan, ditengah situasi terakhir petani di desa Galeso yang kian menurun hasilnya setiap kali panen.

Menurut para petani muda tersebut, tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat untuk beralih ke metode bertani alami. Petani sudah terlanjur merasa nyaman dengan pola pertanian konvensional yang dianggap lebih praktis. Selain itu, ada juga kendala teknis berupa banyaknya petani berstatus penggarap, sehingga belum bisa menentukan kemandirian sebab masih bergantung pada keputusan pemilik lahan. 

"Mengajak petani beralih metode itu sama dengan mengajak seseorang berpindah keyakinan. Apalagi ada kendala-kendala tertentu. Jadi kita pelan-pelan saja." Kali ini Thalib yang memberi komentar.

Sambil tetap fokus menyemprot padi di hadapannya, pemuda berdarah Arab ini terus membagi pengalaman. Ia menuturkan bahwa meski masyarakat belum berani beralih ke metode bertani alami, masyarakat tetap mengakui bahwa beras alami mereka jauh lebih berkualitas dan lebih sehat, sebab tidak lagi mengandung bahan kimia berbahaya.

Dokumentasi Pribadi: Pertanian Alami itu Menyehatkan

"Kalau nasi dari beras kimia hanya bisa bertahan sehari, sedangkan nasi dari beras alami ini tidak akan basi sampai dua hari. Rasanya juga lebih enak. Masyarakat disini, sudah cukup banyak yang membuktikan itu." kata dia lagi.

Di desa Galeso sendiri, luas lahan pertanian yang digarap secara alami, baru berkisar 2,5 Ha, dengan jumlah petani sekitar enam orang. Namun, para penggerak petani alami di desa Galeso tetap optimis, bahwa sedikit demi sedikit, luas lahan dan jumlah petani alami di komunitasnya akan terus bertambah.
Hal tersebut teramati saat tiga petani muda ini melakukan penyemprotan sore itu. Beberapa petani lain menghampiri dan bertanya soal perkembangan aktifitas pertanian alami yang mereka lakoni.

Bulir padi petani alami ini yang kian menguning, adalah pertanda bahwa panen tidak akan lama lagi. Tapi menurut mereka, tujuannya bukanlah sekadar hasil panen melimpah berbiaya murah nan lebih sehat. Akan tetapi, ketika metode bertani alami yang mereka pilih, berhasil mengetuk kesadaran banyak pihak, bahwa selain kewajiban menjaga alam,  kemandirian dan kedaulatan petani memang mesti direngkuh kembali. 

 Dokumentasi Pribadi; Dari kiri ke kanan:
Praktisi dan Pegiat Pertanian Alami, CO muda berbakat dan prohresif, Pewarta Amatir dan Senyumnya manis sekali 



Cacatan, eh, catatan: cerita ini dimuat di Teras Sulbar.Co dengan judul berbeda



Senin, 25 Desember 2017

Selamat Natal, Santho!

SANTOSO -- Sekilas mendengar nama ini, sangat sulit untuk tidak membayangkan dirinya adalah sosok pria kekar dengan tubuh penuh otot macam Agung Hercules, Dwayne Johnson, hingga Cristiano Ronaldo. Oh yah, yang disebut terakhir itu adalah salah satu korban pemberontakan pasukan Catalonia di Bernabeu, dua hari lalu -- sebuah laga bertajuk El Clasico, yang konon katanya lebih mirip ajang geladi bagi Gerrard Pique, untuk kompetisi yang sesungguhnya di liga champions musim ini.

Namun alih-alih serupa Agung, Dwayne, atau Ronaldo; kawan saya ini tampak lebih mirip Andik Firmansyah. Postur biasa saja -- tapi stamina, kecepatan, dan kejujuran, bolehlah diadu dengan Dani Carvajal, pemain el blancos yang diganjar kartu merah, sebab dengan sengaja menangkap bola di bawah mistar gawang, padahal posisinya bek kanan, bukan aparat kepolisian.

"Itu hanya bola, Jal! Bukan Papa. Kenapa ditangkap, gol kan?"

Kira-kira begitu bisikan hati Messi sesaat sebelum mengeksekusi pinalti.

Tapi stamina Santoso memang tidak pernah saya sangsikan. Dialah manusia pertama yang saya saksikan mampu mendorong sepeda motor berkilo-kilo jauhnya di jalan yang hampir seluruhnya adalah tanjakan. Peristiwa bersejarah yang luput dicatat Jaya Suprana di rekor MURI itu, terjadi saat kami melakukan observasi wilayah saat ber-kkn dulu.

Soal kecepatan, Dia pula ahlinya. Bukan hanya soal kecepatan merasa lapar dan paling cepat di meja makan. Santho, begitu biasa ia kami sapa, juga sangat cepat dalam soal memacu sepeda motor. Pernah saya hampir dibuat muntah karena diboncengnya. Entah karena bermaksud menguji adrenalin, atau dia punya sembilan cadangan nyawa, yang jelas, gaya mengendaranya seperti sedang beradu balap dengan garis putih di tengah jalan. Belakangan saya berpikir, seharusnya yang jadi bintang iklan jupiter itu dia, bukannya Komeng.

Antho Demallolongan, begitu nama kerennya di pesbuk, selain bersahaja, juga punya sebuah kekuatan meruntuhkan wibawa orang di sekitarnya. Bagaimana penuh payahnya saya menjaga wibawa sebagai kordes dengan citra kalem, tenang, dan mengayomi -- di hadapan Santoso, dan dua orang kawan lainnya, hancur berkeping-keping. Tak tahan saya untuk tidak ikut berjoged tiap kali musik discodut Ia putar.

Apalah saya. Yang lebih jauh ganas jadi korban adalah orang tua angkat di lokasi KKN, Pak Desa.
Satu dua minggu berjalan, keadaan masih kondusif. Masing-masing jaga image, antara 10 mahasiswa dan Pak Desa. Tapi entah telah terjadi manuver dan lobi apa di belakang sana, tiba-tiba saja hampir setiap malam terjadi perang kentut yang memekakan telinga. Suasana posko yang sunyi menjelang istirahat malam, seolah berubah jadi Jalur Gaza yang mencekam. Sulit untuk melakukan aksi protes dan perlawanan, sebab selain Santo dan dua kawan lainnya, Pakde jualah yang paling antusias dan mengapresiasi helatan yang menjurus anarkis tersebut.

Tapi tentu saja tidak ada anarkis. Tidak ada dendam, apalagi perasaan yang tersakiti. Sebab selebihnya, penghormatan dan saling menghargai antara kami, telah melebur ke dalam bentuknya yang paling absurd, namun merekatkan.

Idul Fitri tahun lalu adalah kunjungan terakhir ke kediaman pakde. Bersama kawan lainnya, kami bersilaturrahmi kembali. Dan ternyata yang paling dinanti kehadirannya adalah dia yang pernah meruntuhkan wibawa pakde; Santoso.

Entah bagaimana sekarang. Kabar terakhirnya konon Ia sedang sibuk menjalani hari-hari sebagai fresh graduate di kota Daeng. Tapi semoga tak termakan sibuklah. Sebab melewatkan Natal tanpa bersama keluarga, tentu saja berpotensi menjatuhkan air mata.

Selamat Natal, bro! Semoga senantiasa diberi keselamatan dimanapun dirimu berada. Selamat Natal juga untuk saudara yang lain yang merayakan Natal tahun ini

Santoso saat mendorong sepeda motor Pak De ber-kilo-kilo-meter jaunya -- di jalan yang penuh dengan tanjakan

Rabu, 13 Desember 2017

Abu Janda, Felix Xiau, dan Perbicangan Seolah-olah

Makan siang tadi siang tidak terlalu jauh berbeda dari makan siang makan siang sebelumnya. Tetap makan nasi, bukan bubur apalagi dedak dicampur keong. Namun yang istimewah, sebab saya menyantap makan siang alakadarnya dengan satu sahabat yang gondrong dan jenggotnya saja sudah progresif.

Meski di meja makan ringkih itu nasi hanya ditemani perkedel jagung yang pinggirannya gosong sebab digoreng sendiri oleh saya, telur dadar yang lumayanlah rasanya sebab diracik sendiri oleh saya, dan satu ikan bandeng goreng dengan taburan biji cabe keriting diatasnya--makanan ini tetap disyukuri, sebab yakin saya sumbernya dari rezeki yang halolan thoyyiban. Insyaallah tidak bersumber dari kalomang yang tempo hari menggauli kas daerah.

Agak lain memang, sebab tidak ada sayur bening atau unsur-unsur yang ada kuahnya. Entah hari ini kenapa si sayur tidak ada. Mau mengganti dengan kuah mi instan, tentu saja adalah bentuk pelanggaran HAM. Sebab sahabat ini sudah membenci indomie sejak dalam pikiran. Bisa-bisa nanti makan siang tertunda, sebab harus mengkaji PT. Indofood secara ekonomi dan politik dulu. Namun tentu saja itu hanya pikiran spekulatif saja. Sebab meski tidak selera dengan imdomie sejak dalam pikiran, sahabat ini sangat toleran pada yang berbeda pandang, dan jelas sangat menghargai orang yang punya pacar sejak dalam kenangan.

Meminjam ungkapan Felix Siauw, Hamdulillah, sepertinya dia cukup menikmati makanan di depannya. Sebagai manusia yang pernah hidup di kost atau sekret orhanisasi, makanan alakadar tersebut tentu sudah spesial. Sebab sudah cukup banyak waktu kita hanya makan roti sekali dalam sehari, ataupun nasi putih yang ditemani kerupuk ajisan. Sesekali memang diganti dengan ayam. Kerupuk ayam mas, maksudnya.

Meski konon pamali mengobrol saat makan, hal tersebut tak bisa dihindari. Sahabat saya ini memang senang diskusi. Ditengah pergulatan intelektualnya, tentu wajar jika dirinya sering membaca realitas tidak dengan normatif-normatif saja. Dan itu yang membuat dia menjadi teman diskusi yang baik. Tak disangkal, saya cukup banyak mendapat hal yang informatif dari alena balao, maksudnya beliau. Dan jika obrolan sambil makan itu adalah pamali, saya berharap semoga menjadi pamali yang hasanah, bukannya dholalah.

Tapi entah karena dimulai dengan obrolan apa, tiba-tiba saja kawan ini bermanuver dengan memberi pertanyaan kecil.

"Kira-kira, kapan itu media on line se-massif sekarang die?"

Saya tahu, dia sedang memposisikan saya sebagai orang dewasa. Menempatkan saya setara dengan dirinya sebagai subjek sebuah topik kecil -- yang besar kemungkinan sebenarnya dia sudah tahu. Gondrong gitu loh!

Saya menandaskan perkedel jagung yang terlanjur saya kunyah. Lalu agar tidak terkesan seperti Ustad Abu Janda yang oleh netizen dikatakan kalah debat di ILC beberapa waktu yang lalu, saya berpikir sejenak, dan mencoba menyusun argumentasi yang kira-kira logis dan se-retorikaik Ustad Felix Siauw. Tapi tentu saja tetap dengan sikap rendah hati dan tidak sombong. Alih-alih dengan jumawah mengatakan, bahwa Kalau di Indonesia ini, insyaallah saya yang paling paham media on laing.

"Kurang tau ka itu nah. Tapi kalo di Sulbar ini, kayaknya media online itu massif sekali sejak Pilgub lalu," ucap saya dengan sok yakin.

Dan karena katanya ustad Felix kalau ngomong harus ada data, maka saya pun mencoba meniru-nirunya.

"Bahkan di Mamuju itu, ada sekian ratus media online. Mungkin sekitar 200 an lebih. Belum pi lagi yang di Majene, Mamuju, Mamasa, dan Polman sendiri" ucap saya lagi, tanpa bilang hamdulillah.

"Anumi sekarang die, tidak terlalu bagaimana mi orang kalau ada tulisannya di media. Beda dulu, penulis atau jurnalis itu kesan intelektualnya masih sangat kuat" ucapnya, memancing pendapat saya, seperti Karni Ilyas.

Saya memperbaiki posisi duduk, mencoba mengatur intonasi suara agar tetap terkesan seperti Felix Siauw, dan mulai memberi pendapat sok saya, persis ketika tangannya menyambar sepotong telor dadar yang saya beri lima potong cabe itu.

"Bisa jadi memang. Tapi kalau saya, dengan massifnya media OL seperti sekarang, bagus tonji untuk pengayaan wacana. Jadi bedami dengan dulu-dulu, wacana yang dilempar ke kita betul-betul menjadi monopolinya jurnalis dan media mapan. Kalau sekarang, praktis semua unsur bisa membicarakan dirinya, merangkai, dan menjadi subjek pada wacananya sendiri. Mau dia petani, nelayan, politisi, gembel, sampai koruptor", kata saya panjang lebar, seperti benar-benar paham persoalan, dan paling tahu media on line se-Indonesia.

Sahabat saya itu tidak menganguk-ngangguk, atau memberi kode jika Ia cukup mengerti apa yang saya katakan. Ia hanya mengambil air putih dan segera meminumnya. Iyalah diminum, sebab jika ia lebih memilih menumpahkannya, itu sungguh tindakan yang selucu parodi Abu Janda--yang membikin Abu-abu lain disana tertawa penuh kemenangan. Sebab dianggapnya mereka telah menang. Padahal Abu yang bapaknya Janda itu, mungkin memang hanya sedang lucu-lucuan. Ah, bodo amat!


Abu Janda dan Felix Siauw di acara WWE ILC (Indonesia Lawak Club)



Minggu, 29 Oktober 2017

TUBLESKA AYAH (Respon Terhadap Rencana Pembangunan Perumahan Baru di Polman)

Satu pemberitaan media terupdate dan terkini Polewali, malam tadi kembali menarik perhatian saya. Bukan soal berita Penjaringan Waria oleh Satpol PP hingga mereka berteriak "TUBLESKA AYAH...!" Juga bukan soal pemberitaan rumah warga dan lapak pedagang pasar yang rusak diamuk hujan disertai lasoanging. Bukan! 

Apa anda akan memaksa saya menerjemahkan lasoanging ke dalam bahasa Indonesia baku menurut KBBI? Please, jangan! Atau saya akan ikutan berteriak, "TUBLES KA AYAH...!"

Kali ini, pemberitaan media ohline lokal tersebut mengangkat berita yang lebih serius dan punya signifikansi sosial yang cukup urgen. Bertanggal 27 Oktober 2017 berita itu diposting, namun baru malam tadi saya membacanya setelah dishare akang di whatsapp brooh grup. Lebih kurang, berita dari media yang judulnya selalu unik dan antimainstream itu berbunyi :

Target 20.000 Unit Rumah di Polman....! Pengusaha China Bakal Bangun Rumah Murah Anti Api & Gempa....

Menarik bukan? Menarik donkz!

Lantas apa urgensi dan signifikansi sosial yang saya mahsut?

Tentu saja ini bisa jadi subjektif. Sebab, cara pandang orang  jelas berbeda-beha. Tentu akan ada yang beranggapan, bahwa dengan rencana investasi tersebut, jika benar jadi, adalah satu berkah pembangunan yang berpeluang membuka geliat ekonomi baru. Investornya dari Tiongkok loh ini! Sangat dapat menambah pundi-pundi kas daerah. Lumayan toh, ada pembukaan lapangan kerja bagi yu yu  dan kitakita yang penganguyan. Kitakita? Yu yu aja keleuz.

Tapi bagi saya, dan mungkin juga kawan-kawan yang setelah membaca ini akan bersegera mencari link berita Waria Teriak Tubles ka Ayah, bisa jadi tidak akan sependapat dengan anggapan di atas. Sebab, beberapa pengalaman telah membuka mata bahwa masyarakat tidak saja akan berpeluang mendapatkan berkah dari "pembangunan" yang dilakukan pemerintah maupun swasta--tetapi tak jarang terjadi adalah sebaliknya--masyarakat menjadi tumbal dari investasi ekonomi ber-isme kapital yang mewujud dalam slogan "Pembangunan berlanjut". 

Tentu saja saya tidak anti pembangunan. Sebab dalam pengertian luas (bukan sebatas dimaknai fisik), pembangunan itu terang perlu. Dalam kait rel berdemokrasi kita, tentu penting mempertimbangkan gaya bottom-up--bahwa inisiasi sebuah perencanaan, bukan semata berangkat dan berdasar pada elit pemerintah dan pemodal, tapi sungguh lahir dan memperhatikan masyarakat akar rumput. Oke, saya terima kok kalo anda berpikir, sok tau dan sok kihitis ini ohang! 

Dalam konteks berita media di atas, yang menurutnya Pemkab Polman menyambut positif rencana investor tersebut, potensi yang menjadi korban dan besar kemungkinan mengalami kerugian tentu adalah masyarakat petani. Coba rekengkan, 20.000 unit rumah yang konon anti api dan anti gempa ini, jika benar berlanjut, kura-kura akan dibangun dimana jika tidak merembet pada lahan pertanian lagi? Di alun-alun? Enak aja, yu! Ingin mengurangi estetika kota? Lalu dimana lagi para pemuda mihenial adu balap drag dan nongki-nongki g4ol?

Lagian, kalo boleh jujur, sebab sekarang memang sulit jujur, sudah banyak kok perumahan-perumahan seperti KPR BTN bersubsidi misalnya, yang dibangun di daerah ini. Dan kebanyakan diantaranya memang menyasar lokasi persawahan atau lahan tani produktif lain. Anda berpikir saya mengada-ada? Ada-ada saja anda berpikir begitu! Kalau tak percaya, besok kita survey lokasi. Tapi yang tanggung makan siang, situ yah! Sekalian ditraktir kuota internep.

Ada juga itu, rumah susun yang warna cat-nya oresh ungu, bagaimana kabarnya sekarang? Apa sudah berfungsi? Jikalah boleh ber-usul, maka lebih baik mengfungsikan yang sudah ada, ketimbang kembali membikin yang baru dan berpotensi untuk kembali mengalihfungsikan lahan, apatah lagi lahan yang produktif. Lahan yang menjadi sumber penghidupan mayoritas masyarakat di daerah ini.

Kita juga belum tahu, sepenting apa sih rencana pembangunan perumahan tersebut? Berangkatkah dia dari kebutuhan yang mendesak? Sebab selama ini, cukup banyak perumahan bersubsidi yang hanya nganggur, atau hanya dikontrakkan oleh mereka yang sebenarnya sudah punya rumah, tiga malah rumahnya. Kasi kita satu kenapa?

Bagaimana pula dengan rumah susun karya Dirjen PU dan Perumahan Rakyat? Betul untuk rakyat yang memang butuh? Jika betul, selamat! Anda benar!

Investasi modal asing dengan Iming-Iming perumahan murah itu jelas menggiurkan. Lebih menggiurkan daripada janji-janji politik Pilkada menjelang 2018 ini. Tapi yah apa tidak lebih bijak jika perumahan yang telah ada dimaksimalkan dulu? Entah itu soal regulasinya, tepat sasaran subsidinya, kemudahan akses bagi yang kebelet punya rumah tapi bermodal cinta belaka, dan jauh lebih penting, perumahan-perumahan tersebut diprioritaskan ke mereka yang memang butuh rumah, bukan yang butuh pacar.
*Wish keren yah, ada masukannya juga, tidak sekedar kritik. Mantap!

Akan jauh lebih ruwet lagi jika persoalan alih fungsi lahan ini menyinggung ke hal lebih besar. Semisal kasus petani Kendeng, Jawa Tengah, yang jadi issu nasional di awal tahun ini. Mereka harus berlarut dalam pusaran konflik, bertahan dan melawan pihak pemerintah/investor yang terbakar nafsu untuk bereksplorasi di wilayah mereka, yang tentu saja mengancam eksistensi pertanian yang menjadi roh kehidupan mereka. Tapi karena ini ruwet, cukup!

Dalam skala yang anggaplah lebih kecil--Rencana pembangunan perumahan murah anti api dan anti gempa tapi semoga tak anti Pancasila ini, jika benar jadi, tentu saja juga rentan dengan pengalih fungsian hingga penyerobotan lahan seperti yang dikatakan sebelumnya. Tapi tentu kegelisahan ini bukan pada sekedar kecil atau besar skalanya. Namun, selain upaya pemihakan kita pada diri sendiri yang mayoritas sebagai petani, tentu saja kita ingin menjaga kewarasan pemerintah. Bukankah hingga tingkat pemerintah paling tinggi, sudah berkomitmen untuk berkedaulatan pangan seperti dalam mimpi Nawacita? Apakah tak ada logika kacau, jika komitmen tersebut, tidak sejalan dan berkontradiksi dengan implementasi di lapangan, dengan pro pemodal untuk berinvestasi di tanah-tanah produktif pertanian?

Jadi, bapak yang diatas, lihatlah realitas. Sektor penghidupan masyarakat bapak itu mayoritas bergumul dengan tanah. Bertani, Pak! Yah kalau dikurang-kurangi terus lahannya kan kasihan. Cukup sarjana yang menganggur, Pak! Petani jangan! 

Tapi kalau bapak yang di atas tetap ngotot mengkebiri hajat hidup kami yang di bawah, maka dalam tempo 2x24 jam, kami akan mengumpulkan massa, lalu akan berteriak dengan lantang secara berjamaah di depan gedung bapak:


"TUBLES KA AYAAAAH.....!"

Foto.net

Kamis, 26 Oktober 2017

Manis Nella Goyang, Magis Jaran Goyang

Seorang kawan, yang jauh dari kriteria rupawan namun cukup dermawan, pernah berbagi kisah soal pengalamannya sebagai wartawan. Pengalaman yang umumnya terjadi di dapur redaksi media. Dikejar deadline, merevisi laporan reporter yang kadang beritanya oh lain, sampai jungkir balik meng-utak-atik kata, sebab bapak pimpinan matanya melotot, ngga srek dengan judul headline.

Bekerja di bawah tekanan, tanpa kontrol diri yang baik disertai kekuatan iman, tentu berpotensi memicu ledakan emosi yang serpihan amarahnya meluber kemana-mana. Bisa jadi malah menambah kerjaan baru, membikin berita kriminal--Pemukulan Terhadap Sesama Kawan, atau Penganiayaan Berjamaah kepada Bapak Pimpinan. Beruntunglah, ilustrasi yang dramatis dan berlebihan ini, di cerita kawan itu tak kejadian.

Solusinya malah terkesan simpel tapi mujarab. Sebab, ketika menghadapai situasi dikejar deadline seperti tersebut, kawan saya dan awak redaksinya, hanya butuh segelas kopi, hisapan cigaret yang khusuk, dan ini yang paling penting; Mendengarkan lagu Nella Kharisma, Jaran Goyang.

Cukup terkesima saya dengan cerita kawan itu. Meski solusinya terkesan mainstream, karena mendengarkan musik itu memang telah jadi kebiasaan umum. Namun cerita kawan itu sungguh menyisakan sekelumit tanya di dalam hati; Kenapa harus lagu Nella Kharisma? Apakah lirik-lirik dalam lagu yang dibawanya, yang konon mengandung unsur magis itu, dapat diaplikasikan lebih luas lagi?

Apakah kemagisannya, juga dapat menenangkan kita, saat kerlip lampu di alun-alun kota diklaim sebagai keberhasilan pembangunan, padahal situasi kemiskinan di desa masih kian menganga? Memang mulus aspal di jalan, tapi kok bayi-bayi tumbang kekurangan nutrisinya? Lalu apakah ketukan gendang lagu Jaran Goyang, juga dapat meredakan kecewa, saat para pemimpin rakyat memunggungi aspirasi dan meludahi kepercayaan yang terberi kepadanya? Bisakah? Bisakah? Jawablah! wahai, Nella Kharisma!

"Yah kok tanya Aku toh, Mas? Tanya Pak Bupati dan Pak Dewan-mu-lah! Dasar kamu, sok kritik sosial!"

Saya mengira-ngira, jawaban Dek Nella akan semanja itu. Namun buru-buru saya terjaga dari lamunan, dan sekian pertanyaan-pertanyaan absurd tersebut.

Seperti ada wahyu dari langit ke tujuh, dan juga ilham dari senyum bapak di baliho tepi jalan, saya kok yah mulai suka bettul dengan lagu Nella Kharisma. Lirik-lirik di lagu Jaran Goyang itu, memang seperti ada unsur magisnya. Saya mulai lapar saat tidak makan, sering ingin tertidur jika sedang mengantuk, dan sungguh ini yang paling mengganggu lagi menyebalkan, saat saya harus terkoneksi dengan internet, tapi yah kok susah sekali? Padahal dicek, kuotanya memang sudah habis. Ada apa ini?

"Asssuuh! Kamu kok jadi bego toh, Maas?"

Kali ini suara itu bukan dari Nella Kharisma. Tetapi dari Cak Malik, lelaki yang disebut-sebut sebagai suaminya.

Namun, saya kembali buru-buru terjaga, itu hanya lamunan belaka. Sungguh lamunan yang tak produktif, tak progresif, alih-alih bersignifikansi sosial.

Sekian penyanyi lain, memang pernah merilis ulang lagu Jaran Goyang ke dalam berbagai versi. Tapi yang dipopulerkan oleh Nella Kharisma, sungguh masih sangat lekat unsur Jawa Timurnya. Yang tentu saja, bahasa Jawa di lirik lagu itu masih sekental susu cap enak. Dan kemagisan lagu ini, sekali lagi, seperti terbukti. Bahwa betapapun kami ber-suku Bugis Mandar, kami tetap tak mengerti artinya. Aneh kan?

"Aneh ndasmu!"

Itu bukan suara Nella Kharisma atau Cak Malik. Itu suara hatiku sendiri.

Lalu saya mulai berselancar untuk mencari arti dan mengerti makna dari lagu ini. Sebuah lagu, yang judulnya itu, sebenarnya pertama kali saya dengar dari grup balap taksi motor lokal Wonomulyo, sekitar setahun lalu. Tahu taksi motor? Ituloh, sejenis motor trail modifikasi, yang punya kekuatan mengangkut gabah kaum marhaen.

Tapi belum juga mendapati artikel yang mengulas arti lagu ini, saya malah terhenti pada sebuah situs web yang mengulas tentang Nella Kharisma dan unsur mistis di lagunya. Situs web tersebut, mengutip sebait lirik dari lagu Jaran Goyang, seperti di bawah:

Kalau tidak berhasil, pakai jurus yang kedua. Semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya. Cen rodok ndagel syarate, penting di lakoni wae. Ndang di cubo, mesthi kasil terbukti kasiate, genjrot.

Konon, lirik di atas dipercaya merujuk pada ajian Jaran Goyang yang biasa digunakan masyarakat Osing Banyuwangi, Jawa Timur. Ajian Jaran Goyang, konon dapat menaklukan hati orang yang diinginkan. Siapa pun yang terkena akan mengalami kasmaran bahkan sampai berperilaku seperti orang gila.

Saya cukup serius membaca ulasan situs tersebut, tapi pelan-pelan, ingatan saya merangkak pada kenangan cinta masa lalu--Pada si gadis ayu kawan SMP yang bersuku Jawa itu. Mungkinkah Ia menggunakan ajian Jaran Goyang? Sebab dulu, saya begitu menggilainya. Terjebak kangen, sampai jadi susah melihat telinga sebelah kiri. Apalagi ketika ditinggal merried, di cermin, saya jadi sering melihat bayangan sendiri. Namun sebelum menjadi prasangka yang sangat bodoh, saya kembali melanjutkan bacaan, dan terpaku pada kalimat:

Jaran Goyang merupakan ilmu Jawa kuno yang diwariskan secara turun-menurun. Pengaruh yang dihasilkan energi Jaran Goyang akan mempengaruhi alam bawah sadar orang lain.
Untuk melakukan ajian jaran goyang, biasanya diharuskan untuk melakukan puasa mutih selama 40 hari 40 malam. Pada malam terakhir harus diakhir dengan Pati Geni, atau menghilangkan segala nafsu sementara.

Saya keluar dari situs web tersebut, tanpa membaca lagi referensi lain yang berbaris di halaman mesin pencari google. Dalam hati saya berbisik, jangan-jangan, lagu Nella Kharisma ini, memang betul punya daya magis? Saya kok mulai bau asem? Padahal belum pernah mandi.

Nella Kharisma: Biduanita asal Jawa Timur yang mempopulerkan lagu Jaran Goyang


Senin, 23 Oktober 2017

Berkenalan dengan QASIMA

Membincang dangdut kontemporer, tentu tidak afdol jika tak menyebut nama Via Vallen. Penyanyi pendatang baru yang sukses meraih predikat sebagai Pedangdut Terpopuler, pada ajang  Indonesian Dangdut Awards, beberapa waktu lalu.

Pelantun tembang "Sayang" ini, tidak sendirian menggebrak kerasnya persaingan jagad dangdut Tanah Air. Ada juga Nella Kharisma; Biduan cantik yang selalu berhasil menggoyang penontonnya dengan salah satu lagu andalan, "Jaran Goyang".

Keduanya tidak saja dikenal sebagai pedangdut muda yang sama-sama berasal dari Jawa Timur. Via dan Nella, juga berkiprah dalam genre dangdut yang sama. KOPLO. Keduanya juga memiliki suara yang begitu renyah, paras manis dan postur semlohai, dan tentu saja, goyangan yang sedikit lebih elegan dan bernafaskan millenial. Sebuah goyangan yang mencoba keluar dari pakem goyang dangdut Koplo ortodox. Mulai dari goyang ngebornya Inul Daratista, goyang gergaji ala Dewi Persik, dan goyang panas dari segala yang panas; goyang hots ala Duo Serigala.

Sebagai peletak dasar musik dangdut koplo, (yang kemudian setelahnya banyak melahirkan pedangdut populer dalam genre yang sama), Inul Daratista, tentu telah menunjukkan keberhasilan nyata atas perjuangannya yang berdarah-darah menghadapi konflik dengan Rhoma Irama. Sang Raja, yang menjadikan musik dangdut sebagai medium dakwah itu, pernah begitu murka dengan apa yang ditampilkan Inul. Menurutnya, goyangan yang dipertontonkan Inul Daratista, dapat merusak citra musik dangdut. Rhoma pun pernah mengusulkan, agar Inul Daratista tidak mengatasnamakan dangdut pada isme bermusik yang diusungnya. Namun toh Inul tetap bergoyang. Dan kini menjadi salah pedangdut paling sukses di Tanah Air.

Sebagai salah satu musik yang merakyat, tentu Dangdut telah melewati banyak pergulatan dalam perkembangannya. Via Vallen dan Nella Kharisma yang telah menggoyang hari-hari kita,  tidak dapat dikatakan sebagai klimaks dari perjalanan musik ini. Bisa jadi, dramanya malah kian panjang.

Kalian tahu? Ada satu kelompok musik, yang mungkin agak terlambat saya temukan, namun menurut saya cukup begitu menarik. Sekelompok perempuan muda berhijab yang menamakan diri sebagai grup Qasidah Irama Melayu, a.k.a QASIMA. 

Sangat iyunik menurutku. Apakah ini sebuah pertanda akan adanya "Purifikasi" pada musik andalan ini? Mari bertanya pada Bang haji. Haagh....